Dalam kehidupan sehari-hari, saya banyak menjumpai orang saling berselisih paham. Selisih antara teman, anak dengan orang tuanya, sesama saudara, dan lainnya. Termasuk saya sendiri, saya pun pernah berselisih paham dengan orang lain. Biasanya saya kesal, menyalahkan orang lain, dan berpikir bahwa sayalah yang benar karena saya berperilaku begini, dan orang lain begitu. Tetapi lama kelamaan, setelah suasana menjadi lebih dingin, saya pun meragukan diri sendiri. Apa saya benar? Apalagi ketika saya berselisih dengan ibu, dengan sahabat ketika masa sekolah menengah, saya pun merasakan penyesalan dalam diri sendiri. Tidak peduli benar atau salah, saya mengecewakan orang yang dekat dengan saya, orang yang saya sayangi. Belakangan ini, saya mendapat sebuah pendapat bijaksana tentang perbedaan tersebut dari seorang susanna tamaro.
Anak-anak muda tidaklah egois, sama halnya orang tua tidaklah bijaksana. Usiamu tidak ada hubungannya dengan kedangkalan dirimu, ini hanyalah masalah jalan hidup yang kau ambil. Saya tidak ingat dimana, tapi belum lama ini saya membaca peribahasa orang Indian yang mengatakan “Sebelum menghakimi orang, berjalanlah selama tiga bulan dengan mengenakan sepatunya”. Dilihat dari luar, banyak kehidupan tampaknya keliru, irasional, gila. Bila kita memandang dari luar, begitu mudahnya orang menyalahpahami orang lain, hubungan-hubungan mereka. Hanya dengan melihatnya lebih dalam, hanya dengan berjalan tiga bulan dengan sepatu mereka, kita dapat memahami motivasi, perasaan, serta apa yang menggerakkan seseorang melakukan sesuatu dan bukan yang lainnya.
Mungkinkah kau akan mengenakan sandalku ?
Filed under: miss. C
Okay, i know… i’ve been gone for 2 days….
Yah, gw cukup sibuk 2 hari ini ketika gw diminta untuk menjadi salah satu panitia audio visual untuk pentas seni fakultas gw. Dalam waktu 2 hari tim AV diminta untuk membuat opening movie dan dapet tugas untuk dokumentasi acara. Hari pertama dipake untuk shooting, dimana gw tidak ikut berpartisipasi. Yah, saat itu gw belum tau kalo waktu yang tersedia cuma 2 hari “,) Akhirnya, setelah mendapat penjelasan dari tim yang lain, baru deh kelabakan. Di hari kedua, baru deh gw berpartisipasi dalam editing movie. Anyway, dengan berbagai macam adegan yang terjadi, akhirnya opening movie itu pun selesai pada pukul 2.30 pagi. Thanks, God nggak terjadi kesialan” seperti yang dulu-dulu ketika kami meng’edit film.
Keesokan paginya, baru deh melakukan tugas berikutnya, menyusun peralatan audio visual untuk keperluan acara. Yeah, emang sih sebelumnya pernah dijelasin selama kuliah. Tapi kenyataannya… haha… teori memang mudah, tapi prakteknya ??? Ada aja masalah yg kayak kaset VHS nggak ada, kabel kurang, sama gimana caranya masang mixer, TV, recorder, kamera, dkk… supaya saling nyambung. Finally, pengarahan ulang deh dari dosen, Pak Ruby. Yah, tertunda cukup lama dalam pelaksanaannya karena masalah teknis, tapi akhirnya selesai juga tepat sebelum acara dimulai.
Kali ini merupakan pertama kalinya gw terjun langsung dalam pemasangan alat-alat audio visual. Yah, yang tadinya tidak bisa, mau tidak mau harus berputar otak dan menggunakan logika. Dan gw berusaha se’profesional mungkin dalam melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan kepada gw.
Well, capek memang, tapi gw mendapat pengalaman yang lain dari biasanya. Yah, seperti kata sebuah tagline iklan sabun cuci, “nggak ada noda, ya nggak belajar”
Filed under: sheera
Hmm… menanggapi comment” dari blog sebelumnya ’something honest’, gw setuju dengan “live in freakin’ city makes me curious or doesn’t care people i did’t know”. Sebuah contoh kasus yang baru-baru ini terjadi pada gw. Beberapa hari yang lalu, gw pergi ke sebuah pusat perbelanjaan yang sangat crowded (disebut mangga dua). Begitu pula tempat makannya, boleh dibilang suasananya bisa memicu orang untuk cepat ‘naik darah’, yah… pelayan disana memang sudah ‘naik darah’ sepertinya. Untuk mendapat tempat duduk harus mengantri dan berdesakkan, tidak nyaman memang. Akhirnya ada 2 bangku kosong, gw dan teman gw pun segera menduduki bangku itu, bersebelahan. Orang yang di depan gw sudah mau selesai makan, maka gw pun cepat-cepat menjaga tempat duduk itu untuk teman gw yg satu lagi. Berhubung suasana yang sangat ramai, salah seorang pelayan yang menyuruh pelanggan lain untuk duduk di bangku yang hampir kosong itu. Pelanggan lain itu adalah seorang kakek dengan cucu laki-lakinya yang masih kecil. ‘ketakutan’ bahwa bangku itu akan ditempati orang lain, maka gw dan teman gw cepat-cepat menyuruh teman gw yg belum duduk itu untuk segera menempatinya. Bersamaan dengan itu, si pelayan menyuruh kakek itu lagi untuk menempati meja yang ada. Tapi kemudian, si kakek itu berkata sambil tersenyum ramah, “Tidak, bangku itu jatahnya teman kedua nona ini. Tadi mereka sudah lebih dulu mengantri.”
Plaakk… Like slap me in the face…
Gw merasa malu… disaat hati gw yang begitu egois, kakek itu menanggapinya dengan senyuman. Gw merasa malu, disaat suasana ‘memanas’ itu, justru gw ikut sebagai kayu yang tersulut api. Gw udah melupakan norma-norma yang dulu diajarkan, untuk menghormati yang lebih tua. Memberikan tempat duduk kepada yang lebih tua. Hmm… setelah gw pikir-pikir, hidup di kota Jakarta inilah yang membuat gw berubah. Sekian tahun tinggal di sini, gw terbawa arus kerasnya kehidupan di kota ini. Sudah tidak lagi menjaga tata krama yang harusnya gw jaga.
pergilah ke mana hatimu membawamu
Dan kelak, disaat begitu banyak jalan
terbentang di hadapanmu
dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil
janganlah memilihnya dengan asal saja
tetapi duduklah dan
tunggulah sesaat. Tariklah napas
dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan,
seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini.
Jangan biarkan apapun mengalihkan
perhatianmu, tunggulah dan tunggulah
lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening,
dan dengarkanlah hatimu.
Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah,
dan pergilah ke mana hatimu membawamu…
- susanna tamaro -
Filed under: sheera
The Bottom Line
Your attitude about life is about to get rosier, thanks to a big dose of romance.
In Detail
Your ‘ho-hum’ attitude is about to turn into a ‘hooray!’ attitude, thanks to a big dose of romance that’s coming your way. The likeliest suspect is a certain overly friendly person who has been flattering you nonstop, but there are many potential new romantic partners in your world right now (be aware, however, that not all of them are as available as they appear to be). Unexpected invitations and mysterious acts of generosity add intrigue to your life — do you have a secret admirer?
sheera, ” err…really? you gotta be kiddin’… cause the reality, i’m available as well “
Filed under: music & lyrics
My Interpretation
by Mika
You talk about life, you talk about death,
And everything in between,
Like it’s nothing, and the words are easy.
You talk about me, and you talk about you,
And everything I do,
Like it’s something, that needs repeating.
I don’t need an alibi or for you to realize,
The things we left unsaid,
Are only taking space up in our head.
Make it my fault, win the game
Point the finger, place the blame
It does me up and down,
It doesn’t matter now.
[chorus:]
‘Cause I don’t care if I ever talk to you again.
This is not about emotion,
I don’t need a reason not to care what you say,
Or what happened in the end.
This is my interpretation,
And it don’t, don’t make sense.
The first two weeks turn into ten,
I hold my breath and wonder when it’ll happen,
Does it really matter?
If half of what you said is true,
And half of what I didn’t do could be different,
Would it make it better?
If we forget the things we know.
Would we have somewhere to go?
The only way is down, I can see that now.
[chorus]
It’s really not such a sacrifice
[chorus]
And it don’t have to make no sense to you at all,
‘Cause this is my interpretation, yeah, yeah, yeah.
Filed under: sheera
I realized that i’ve been change lately. More stubborn, serious, quiet, etc… People see me like i’m ready to fight (yeah, sometimes their ignited… so i have to push down my ego for nicely). Hell yeah, i have something complex. People see me this may caused by me difference of understanding with other. Well, people see me in the wrong way. This is far away from that. Seriously… Don’t get me wrong!
Filed under: sheera
Mampus, gw nggak punya ongkos buat pulang !!! Gara-gara tadi dipake nalangin buat ngeprint tugas, trus sisanya buat makan siang. Gw nggak sadar kalo uang gw abis. Satu-satunya uang yang tersisa tinggal sekeping 500 perak di kantong celana. Otakku berpikir, ada 3 alternatif gw supaya bisa pulang.
- Ambil ATM terus pulang naek metromini. Ah, tapi males bgt… ATM kan pecahan 50 ribu, dipake bayar ongkos 2000. Berhubung gw tau banget sifat kenek2 metromini pada umumnya yang ‘t**’ banget, gw mencoret alternatif ini.
- Abis ambil ATM, pulang naek taxi. Hmm, tapi jaraknya kan cuma dari Untar I ke Apartemen Mediterania, di tanjung duren sono. Argo belum jalan juga udah nyampe. Lagian berasa bego-manja-nggak guna juga, masa deket gitu naek taxi. Belum lagi kalo supirnya nolak… Maka gw coret juga alternatif ini.
- Nunggu shuttle bus Mediterania lewat. Hmm, kayaknya pas nih. Gratis, pak supir dan asistennya ramah, dan ber AC pula. Perfect !
Akhirnya gw memutuskan nunggu di depan kampus. Panas banget nih, wah… ultraviolet sialan. Gw serasa jadi steak grilled. Maka gw bergeser dikit ke payung warung rokok deket situ. Nggak berapa lama kemudian, bapak pemilik warung rokok tersebut menawarkan bangku kosongnya ke gw.
” De, duduk aja. “
” Iya, pak. ‘makasih… “
Berkat belas kasihan bapak itu, maka gw bisa duduk dan terlindungi dari panggangan. Nggak berapa lama kemudian, shuttle bus pun nampak dikejauhan. Dan gw bersiap-siap menyambutnya. Maka gw kembaliin bangku itu.
” Pak, ini bangkunya. ‘makasih. “
” Oh, iya. Sudah datang busnya, de ? “
” Sudah, pak. ‘makasih “
Sebenernya, ini bukan pertama kali bapak itu menawarkan bangku kosongnya ke gw. Mungkin bapak itu nggak ingat, beberapa bulan yang lalu, gw pun pernah ditawari bangku duduknya. Gw nggak nyangka aja, padahal kalau pedagang yang lain mungkin ”nggak jajan, nggak usah duduk lo”. Gw senang, karena disaat gw mempertanyakan, ‘apa masih ada kebaikkan di kota ini ?’, Tuhan menunjukkannya langsung sama gw. Hal sederhana memang, tapi gw tau itu tulus.

Filed under: sheera
Here’s my ridiculous list of me being selfish :
- i just let my school friends called me with my school nickname
- i just let my family members called me with my chinese name
- i just let my self sleep with my ‘divalectable’
- i am sleepy sleeperson
- don’t ask me to dance, but offer me a lesson to dance. haha… i’m sucks at dance, but still worth to try
- also, i’m suck at something related to ‘car’ such as karting or bom-bom car.so, when friends ask me to play with ‘em, the answer would be ‘nope
- i hate house music, so… don’t ask me about that
- i am a feminist, i get mad when somebody humiliated womenfolk
- i didn’t enjoy the small talk
- i expected my real friends to know me better than others.
maybe there’s more, check out later…
Filed under: sheera
Try to be as expressive as you can today — physically and verbally. Being able to convey your feelings in many different ways will help you connect with people in a more significant way. So when something great happens to you, smile broadly and proclaim how happy you are. And if something stinks, wear your displeasure on your face and make it known that you are not satisfied (with all your customary tact, of course). Luckily, you will be very satisfied today.